Oleh: Indonesian Children | April 12, 2010

Dapatkah Internet Menggantikan Peran Dokter ? Menegakkan Diagnosis Penyakit Melalui Internet

Quantcast

Dapatkah Internet Menggantikan Peran Dokter ?

Menegakkan Diagnosis Penyakit Melalui Internet

Pesatnya globalisasi dan kemajuan teknologi informasi di era modern ini membuat manusia bisa dengan mudah mendapatkan berbagai informasi melalui internet. Termasuk informasi kesehatan adalah masalah yang paling banyak dicari. Ternyata, saat ini bukan hanya informasi kesehatan yang bisa di dapatkan. Penegakkan diagnosis suatu penyakitpun banyak dilakukan di dunia maya tersebut.

Kemudahan ini membuat banyak orang melakukan diagnosa penyakit hanya dengan menggali informasi di internet. Bahkan, mereka tak ragu mengonsumsi obat sesuai informasi di internet tanpa berkonsultasi dengan dokter.

Hal tersebut tentu tidak bisa dibenarkan. Selengkap apapun informasi yang disajikan di dunia maya, tetap harus berkonsultasi dengan dokter. Dokterpun dalam menegakkan suatu penyakit harus melalui tahapan medis yang harus dilalui. Seperti mengetahui riwayat penyakit pasien atau anamnesa. Tahapan selanjut adalah pemeriksaan fisik dan kalau perlu pemeriksaan laboratorium.

Sehingga untuk menentukan diagnosis penyakit dan pemilihan obat yang aman dikonsumsi tidak bisa hanya dengan sarana instans saja. Mungkin saja beberapa kasus penyakit dapat diatasi dengan cara tersebut. Tetapi, sebaliknya banyak kasus lainnya tidak bisa digeneralisir dengan cara seperti itu.

Banyak sekali informasi kesehatan diunduh dari internet. Tetapi tidak semua informasi itu belum tentu berasal dari orang yang kompeten. Akurasi dan ketepatan infomrasi tersebut kadang banyak yang belum bisa dipercaya. Sehingga internet adalah media informasi yang paling canggih dan terbesar, tetapi juga merupakan sampah informasi paling besar. Informasi yang muncul di situs resmi kesehatan pun bukan berarti bisa untuk melakukan pengobatan sendiri.

Menurut survei Nielson pada 2009, mencari informasi tentang kesehatan adalah aktivitas paling populer di internet. Hampir 75 persen orang dewasa diperkirakan menghabiskan waktu mereka untuk mencari informasi kesehatan. Mereka yang senang melakukan diagnosa penyakit sendiri melalui internet disebut Cyberchondria. Cyberchondria menjadi masalah memprihantikan karena semua memiliki akses informasi tentang gejala penyakit. Banyak pasien yang melakukan riset tidak hanya gejala tetapi juga obat-obatan.

Sebenarnya, mencari informasi kesehatan di internet memiliki dampak positif. Pasien bisa mengetahui informasi secara detail. Meski, banyak juga informasi yang kredibilitas dan akurasi ilmiahnya masih dipertanyakan. Meski informasi kesehatan tersebut bisa dipercaya, hal itu tidak bisa menggantikan peran dokter. Melakukan diagnosa sendiri terhadap penyakit memiliki tingkat risiko salah yang cukup besar. “Hanya mengetik gejala yang dialami pada mesin pencari di internet, tidak cukup. Jika memang informasi di internet benar, bisa-bisa profesi dokter tidak diperlukan lagi.

Internet memang sumber informasi yang baik, dan cukup lengkap. Tetapi bukan berarti dengan informasi tersebut seorang pasien bisa melakukan diagnosa penyakit sendiri apalagi membeli obat tanpa resep dokter.

Audi Yudhasmara

KORAN ANAK INDONESIA, Yudhasmara Publisher

Jl Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta PusatPhone : (021) 70081995 – 5703646

email : judarwanto@gmail.com

http://korananakindonesia.wordpress.com/

 

 

 

 

Copyright © 2010, Koran Anak Indonesia  Network  Information Education Network. All rights reserved


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: