Oleh: Indonesian Children | Desember 4, 2009

INFEKSI KEHAMILAN : TOKSOPLASMOSIS

Toxoplasmosis adalah penyakit parasitik yang disebabkan oleh protozoa Toxoplasma gondii. Parasit tersebut menginfeksi banyak binatang berdarah-hangat, termasuk manusia, tetapi paling sering menginfeksi kucing pada famili felidae. Binatang terinfeksi dengan mengigit daging yang terinfeksi, dengan kontak terhadap kucing feces, atau dengan infeksi dari ibu ke fetus. Kucing ditunjukan sebagai penyebab utama infeksi ini. Sementara hal ini benar, kontak dengan daging terinfeksi yang belum dimasak menjadi akibat lebih penting terhadap infeksi manusia pada banyak negara.

image

 Toksoplasmosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh protozoa obligat intraseluler yaitu Toksoplasma gondii. Penyakit ini mempunyai gejala klinik dengan manifestasi yang sangat bervariasi. Sebagian besar pasien bahkan tidak memberikan gejala dan tidak diketahui telah terinfeksi. Pada banyak pasien termasuk bayi dan pasien dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, toksoplasmosis dapat mengancam jiwa. Bagi ahli kebidanan dan penyakit kandungan, toksoplasmosis penting karena dapat menyebabkan penyakit pada ibu yang tak diketahui penyebabnya dan sangat potensial menyebabkan infeksi bayi dalam kandungan yang dapat menyebabkan keguguran, kematian bayi dalam kandungan dan kecacatan pada bayi.

Menegakkan diagnosis toksoplasmosis adalah sulit karena gejala klinisnya yang tidak selalu jelas dan bahkan pada banyak pasien tidak memberikan gejala. Hingga saat ini sudah banyak metode pemeriksaan yang dikembangkan termasuk metode pemeriksaan serologi untuk mendeteksi antibodi tetapi hasilnya masih belum memuaskan dan biayanyapun masih sangat mahal. Pemeriksaan histopatologi mungkin dapat membantu meskipun dengan hasil yang masih kurang memuaskan.

Penyebaran dari infeksi toksoplasma mencapai seluruh penjuru dunia dengan insidensi yang bervariasi. Pada penelitian antibodi toksoplasma di Tahiti dan Guatemala didapatkan infeksi hampir 100%, sedangkan di India hanya 2 %. Di Perancis didapatkan kejadian 10 infeksi akut tiap 1000 kehamilan, sedangkan di Amerika hanya 1,1 tiap 1000 kehamilan., Hasil penelitian di Indonesia untuk serologi Toksoplasma didapatkan 51,58 % untuk IgG dan 13,16 % untuk IgM. Insidensi infeksi toksoplasma rendah pada daerah dengan iklim suhu rendah seperti daerah Alaska dan juga pada daerah dengan iklim kering seperti daerah Arizona.

Toksoplasmosis adalah penyakit sistemik yang disebabkan oleh protozoa toxplasma gondii. Antara 15 – 45% wanita usia reproduktif memiliki antibodi terhadap toksoplasma ( IgG ) sehingga terlindung dari infeksi toksoplasma.

Gejala umumnya subklinis dan kadang menyerupai sidnroma monukleosis.

Organisme berasal dari makanan menath atau setengah matang yang terpapar dengan ktoran kucing domestik

 Siklus Hidup

Nama Toksoplasma diambil dari bahasa Yunani toxon yang berarti busur panah atau lengkung. Ini sesuai dengan bentuk Toksoplasma yang seperti bulan sabit. Adapun bentuk seperti ini didapatkan pada Toksoplasma dalam bentuk tropozoit pada fase proliferasi, merozoit dari kista, merozoit hasil dari schizogoni pada epitel usus kucing, dan pada sporozoit dari ookista.

Siklus hidup Toksoplasma ada 5 tingkat : Fase proliferatif, stadium kista, fase schizogoni dan gametogoni dan fase ookista. Siklus aseksual terdiri dari fase proliferasi dan stadium kista. Fase ini dapat terjadi dalam bermacam macam inang. Siklus seksual secara spesifik hanya terdapat pada kucing.

Fase proliferatif, yang menghasilkan tropozoit, terjadi secara intraseluler dalam banyak jaringan saat terjadi infeksi primer. Tropozoit menjadi berkurang jumlahnya pada saat imunitas inang terbentuk, dan infeksi dapat masuk dalam stadium kronis. Apabila terjadi penurunan dan penekanan daya tahan tubuh, tropozoit dapat kembali berprofilerasi dan menjadi banyak. Fase proliferasi ini juga terjadi saat pembelahan sel.

Kista dapat terbentuk setelah terjadi beberapa siklus proliferasi dimana terbentuk tropozoit. Kista ini dapat terbentuk selama infeksi kronis yang berhubungan dengan imunitas tubuh. Kista terbentuk intrasel dan kemudian terdapat secara bebas di dalam jaringan sebagai stadiun tidak aktif dan dapat menetap dalam jaringan tanpa menimbulkan reaksi inflamasi. Pada saat ini antibodi dapat menurun meskipun masih terdapat infeksi. Pada saat daya tahan tubuh menurun dan pada saat fase proliferasi, kista tidak terbentuk. Kista pada binatang yang terinfeksi menjadi infeksius bila termakan oleh karnivora dan toksoplasma masuk melalui usus.

Siklus seksual Toksoplasma gondii hanya terdapat pada kucing. Kucing dapat terinfeksi saat makan kista, pseudokista atau ookista. Kemudian tropozoit masuk kedalam epitel usus kucing dan membentuk schizon dan kemudian membentuk makrogamet dan mikrogamet. Ookista kemudian terbentuk dan dikeluarkan bersama feses kucing 3 – 5 hari setelah terinfeksi dan menetap didalamnya selama 1 – 2 minggu. Ookista kemudian menjadi sangat infeksius saat terjadi sporulasi setelah 1 – 3 hari pada suhu 22° C. Ookista dapat bertahan pada berbagai macam kondisi lingkungan dan pada udara bebas selama 1 tahun atau lebih.

Infeksi pada manusia dapat terjadi saat makan daging yang kurang matang, sayur-sayuran yang tidak dimasak, makanan yang terkontaminasi kotoran kucing, melalui lalat atau serangga. Juga ada kemungkinan terinfeksi saat menghirup udara yang terdapat ookista yang beterbangan.

Cara penularan lain yang sangat penting adalah pada jalur maternofetal. Ibu yang mendapat infeksi akut saat kehamilannya dapat menularkannya pada janin melalui plasenta. Risiko terjadinya infeksi pada janin dalam rahim meningkat menurut lamanya atau umur kehamilan. Pada kehamilan trimester I risiko infeksi sekitar 17 %, pada trimester II sekitar 24 % dan pada trimester III sekitar 62 %. Pada

ibu yang mendapat infeksi sebelum terjadinya konsepsi sangat jarang menularkannya pada janin. Meskipun risiko infeksi meningkat sesuai umur kehamilan, tetapi > 90 % dari infeksi yang didapat saat trimester III biasanya tidak memberikan gejala saat bayi lahir.

Gejala klinik

Pada manusia dewasa dengan daya tahan tubuh yang baik biasanya hanya memberikan gejala minimal dan bahkan sering tidak menimbulkan gejala. Apabila menimbulkan gejala, maka gejalanya tidak khas seperti : demam, nyeri otot, sakit tenggorokan,kadang-kadang nyeri dan ada pembesaran kelenjar limfe servikalis posterior, supraklavikula dan suboksiput. Pada infeksi berat, meskipun jarang, dapat terjadi sakit kepala, muntah, depresi, nyeri otot, pnemonia, hepatitis, miokarditis, ensefalitis, delirium dan dapat terjadi kejang.

Pada toksoplasmosis kongenital berat dapat menyebabkan kematian janin, tetapi pada keadaan yang lain, infeksi dapat tidak memberikan gejala dan bayi dapat lahir normal. Kelainan pada janin dengan toksoplasmosis kongenital dapat berupa gangguan pertumbuhan janin dalam rahim, hidrosefali, anensefali, mikrosefali. hidrops non imun, korioretinitis. Pada bayi dapat juga lahir tanpa gejala tetapi kemudian timbul gejala lambat seperti korioretinitis, katarak, ikterus, mikrosefali, pnemonia dan diare.

Komplikasi jangka panjang yang serius adalah timbulnya kejang, retardasi mental dan gangguan penglihatan.

Kebanyakan bayi yang meninggal karena infeksi toksoplasma mengalami kerusakan yang berat pada otak. Kerusakan pada pembuluh darah menyebabkan kematian fokal dan difus pada hemisfer otak, batang otak dan serebellum. Kerusakan yang lebih berat terjadi pada korteks daerah sekitar ventrikel otak, dan ganglia basalis. Seringkali terbentuk kista yang dapat menyebabkan sumbatan pada saluran serebrospinal yang dapat menyebabkan hidrosefali.

Diagnosis

Menegakkan diagnosis tokoplasmosis sulit dilakukan karena gejala klinisnya yang tidak selalu jelas, dan bahkan banyak yang tidak menimbulkan gejala. Beberapa metode pemeriksaan telah dikembangkan untuk mendiagnosa toksoplasmosis tetapi hasilnya masih kurang memuaskan disamping biayanya masih sangat mahal. Sampai saat ini penyaringan serum toksoplasmosis prenatal masih belum dapat dilakukan karena kesulitan teknik dalam menginterpretasikan hasilnya.

Salah satu cara menegakkan diagnosis toksoplasmosis adalah dengan cara isolasi parasit yang diambil dari darah, cairan serebrospinal atau biopsi yang kemudian diinokulasikan ke dalam peritoneum tikus, hamster atau kelinci yang bebas dari infeksi toksoplasma. Diagnosis prenatal dapat dilakukan dengan Chorionic Villus Sampling ( CVS ), kordosintesis, amniosintesis yang kemudian dari hasil sampling tersebut dilakukan inokulasi pada peritoneum tikus mencit untuk menemukan toksoplasma. Metode isolasi ini sekarang sudah jarang dilakukan karena membutuhkan waktu yang lama dan kebanyakan laboratorium rumah-sakit tidak mempunyai fasilitas untuk melakukan pemeriksaan tersebut.

Pada pemeriksaan secara makroskopis, plasenta yang terinfeksi biasanya membesar dan memperlihatkan lesi yang mirip dengan gambaran khas dari eritroblastosis fetalis. Villi akan membesar, oedematus dan sering immatur pada umur kehamilan. Secara histopatologis yang ditemukan tergantung pada stadium parasit dan respon imun dari penderita. Gambaran yang ditemukan dapat berupa gambaran normal sampai pada gambaran hiperplasia folikel, dimana ditemukan peningkatan limfoblas retikuler ( sel imunoblas besar ), sering didapatkan normoblas pada pembuluh darah, infiltrat sel radang subakut yang bersifat fokal maupun difus, small clumps histiosit yang dapat ditemukan pada daerah tepi dari sel-sel yang terinfeksi, menunjukkan gambaran agregasi, gambaran folikel yang khas yang berhubungan dengan kenaikan titer serologi. Pada beberapa kasus dapat ditemukan gambaran proliferatif dan nekrotik dari peradangan villi. Kadang-kadang peradangan villi ditemukan dengan adanya limfosit, sel plasma, dan fibrosis.

Diagnosis dapat ditegakkan dengan adanya gambaran organisme dalam sel. Organisme sulit ditemukan pada plasenta, tetapi bila ditemukan biasanya terdapat dalam bentuk kista di korion atau jaringan subkorion. Identifikasi sering sulit, sebab sinsitium yang mengalami degenerasi sering mirip dengan kista.

Pada neonatus dapat ditemukan gambaran seperti pada hepatitis, berupa gambaran nekrosis sel hati, Giants cell, hematopoesis ekstranoduler, nekrosis adrenal. Pada susunan syaraf pusat dapat ditemukan nodul mikroglial dengan takizoit, ulkus ependymal, radang soliter akuaduktus dan atau ventrikel.

Pemeriksaan serologi saat ini merupakan metode yang sering digunakan. Meskipun demikian pemeriksaan serologi untuk toksoplasma cenderung mengalami kesulitan dalam pelaksanaannya. Beberapa metode pemeriksaan yang pernah dilakukan antara lain Sabin-Feldman dye test, indirect fluorescent assays (IFA), indirect hemagglutination assays (IHA), dan complement fixation test (CFT). Cara pemeriksaan yang baru dan saat ini sering digunakan adalah dengan enzyme-linnked immunosorbent assay (ELISA). Kebanyakan laboratorium saat ini sudah tidak menggunakan Sabin-Feldman dye test. Pemeriksaan – pemeriksaan yang sering digunakan adalah dengan mengukur jumlah IgG , IgM atau keduanya. Ig M dapat terdeteksi lebih kurang 1 minggu setelah infeksi akut dan menetap selama beberapa minggu atau bulan. IgG biasanya tidak muncul sampai beberapa minggu setelah peningkatan IgM tetapi dalam titer rendah dapat menetap sampai beberapa tahun.

Secara optimal, antibodi IgG terhadap toksoplasmosis dapat diperiksa sebelum konsepsi, dimana adanya IgG yang spesifik untuk toksoplasma memberikan petunjuk adanya perlindungan terhadap infeksi yang lampau. Pada wanita hamil yang belum diketahui status serologinya, adanya titer IgG toksoplasma yang tinggi sebaiknya diperiksa titer IgM spesifik toksoplasma. Adanya IgM menunjukkan adanya infeksi yang baru saja terjadi, terutama dalam keadaan titer yang tinggi. Tetapi harus diingat bahwa IgM dapat terdeteksi selama lebih dari 4 bulan bila menggunakan fluorescent antibody test , dan dapat lebih dari 8 bulan bila menggunakan ELISA.

Diagnosis prenatal dari toksoplasmosis kongenital dapat juga dilakukan dengan kordosintesis dan amniosintesis dengan tes serologi untuk IgG dan IgM pada darah fetus. Adanya IgM menunjukkan adanya infeksi karena IgM tidak dapat melewati barier plasenta sedangkan IgG dapat berasal dari ibu. Meskipun demikian antibodi IgM spesifik mungkin tidak dapat ditemukan karena kemungkinan terbentuknya antibodi dapat terlambat pada janin dan bayi.Akhir-akhir ini dikembangkan pemeriksaan IgG avidity untuk melihat kronisitas infeksi, dimana semakin tinggi kadar afinitas semakin lama infeksi telah terjadi.

Beberapa pedoman yang dapat digunakan dalam menilai hasil serologi :

1. Infeksi primer akut dapat dicurigai bila

a. Terdapat serokonversi IgG atau peningkatan IgG 2-4 kali lipat dengan interval 2-3 minggu.

b. Terdapatnya IgA dan IgM positif menunjukkan infeksi 1-3 minggu yang lalu.

c. IgG avidity yang rendah

d. Hasil Sabin-Feldman / IFA > 300 IU/ml atau 1 : 1000

e. IgM-IFA 1 : 80 atau IgM-ELISA 2.600 IU/ml

2. IgG yang rendah dan stabil tanpa disertai IgM diperkirakan merupakan infeksi lampau.

1. Ada 5 % penderita dengan IgM persisten yang bertahun-tahun akan positif
2. Satu kali pemeriksaan dengan IgG dan IgM positif tidak dapat dipastikan sebagai infeksi akut dan harus dilakukan pemeriksaan ulang atau pemeriksaan lain.

 

TOKSOPLASMOSIS DALAM KEHAMILAN

Angka kejadian infeksi primer dalam kehamilan kira kira 1 : 1000. dalam kehamilan , skrining rutin tidak dianjurkan.

Resiko penularan terhadap janin pada trimester I = 15% ; pada trimester II = 25% dan pada trimester III = 65%. Namun derajat infeksi terhadap janin paling besar adalah bila infeksi terjadi pada trimester I.

Trias klasik toksoplasma berupa :

  1. Hidrosepalus
  2. Kalsifikasi intrakranial
  3. Korioretinitis

Trias tersebut jarang terlihat.

Sekitar 75% kasus yang terinfeksi tidak memperlihatkan gejala saat persalinan. 25 – 50% memperlihatkan skuale seperti terlihat pada tabel dibawah :

MANIFESTASI INFEKSI TOKSOPLASMA KONGENITAL
  • Hidrosepalus
  • Korioretinitis
  • Mikrosepali
  • Mikroptalmia
  • Hepatosplenomegali
  • Kalsifikasi serebral
  • Adepati
  • Konvulsi
  • Perkembangan mental terganggu

 

Diagnosa pasti infeksi terhadap janin adalah dengan menemukan IgM dalam darah talipusat

Hasil biakan plasenta pada pasien dengan infeksi toksoplasma menunjukkan angka positif sebesar 90%.

penyakit ini jarang terdiagnosa semasa kehamilan oleh karena sebagian besar bersifat subklinis

DIAGNOSIS :

Diagnosa ditegakkan bila IgM positif dan titer IgG yang meningkat 4 kali lipat pada pemeriksaan ulang selang waktu 2 – 3 minggu.

Titer IgM akan tetap tinggi sampai 3 – 4 bulan

Penanganan

Infeksi toksoplasma pada ibu hamil dapat dicegah dengan cara menghindari tertelannya kista atau ookista berbentuk spora dengan menjaga kebersihan diri. Perlu kebiasaan mencuci tangan sebelum makan atau setelah kontak dengan kucing/ kotoran kucing, memasak makanan sampai matang benar ( > 66° C ) dan menggunakan sarung tangan sewaktu berkebun. Buah-buahan dan sayur mentah harus dicuci bersih dan makanan dilindungi supaya tidak dihinggapi lalat, kecoa dan serangga atau binatang lain yang mungkin dapat membawa kontaminasi dari kotoran kucing.

Pengobatan terhadap ibu hamil yang terinfeksi akut dengan tujuan mengurangi infeksi ke janin diperkirakan efektifitasnya hanya 50 %.

Toksoplasma termasuk penyakit “self limiting disease” Mengingat bahwa adanya potensi untuk menimbulkan cacat pada janin maka dapat diberikian terapi :

  1. Spiramycin , pada kasus infeksi akut yang ditegakkan melalui pemeriksaan serologi umunya diterapi dengan spiramycin 1 gram 3 dd 1 dakam keadaan perut kosong . Spiramycin akan terkonsentrasi pada plasenta sehingga dapat mencegah penjalaran infeksi je janin. Akan tetapi kemampuan spiramycin untuk mencegah penularan vertikal masih kontroversial. Spiramycin tidak menembus plasenta dengan baik sehingga amniosentesis dan pemeriksaan PCR untuk melihat adanya toksoplasma gondii harus dikerjakan sekurangnya 4 minggu pasca infeksi maternal akut pada trimester ke II . Bila hasil pemeriksaan PCR negatif, Spiramycin dapat diteruskan sampai akhir kehamilan. Bila hasil pemeriksaan PCR positif maka dugaan sudah adanya infeksi pada janin harus diterapi dengan obat lain .
  2. Pyrimethamine dan Sulfadiazine , Kombinasi pyrimethamine and sulfadiazine,( folic acid antagonists dengan efek sinergi ) digunakan untuk menurunkan derajat infeksi kongenital dan meningkatkan proporsi neonatus tanpa gejala.
  3. asam Folinat untuk mencegah kerusakan pada janin

Wanita hamil harus menghindari kontak dengan kucing atau kotorannya , mengenakan sarung tangan karet tebal saat berkebun dan menghidari konsumsi daging metah atau setengah matang.

Rujukan :

  • American College of Obstetricians and Gynecologists. Perinatal viral and parasitic infections. Technical Bulltein no 177.Washington DC . ACOG 1993
  • Martin AM, Liu T, Lynn BC, Sinai AP. The Toxoplasma gondii parasitophorous vacuole membrane: transactions across the border. J Eukaryot Microbiol. Jan-Feb 2007;54(1):25-8. [Medline][Full Text].
  • Chen XG, Wu K, Lun ZR. Toxoplasmosis researches in China. Chin Med J (Engl). Jun 20 2005;118(12):1015-21. [Ashburn D, Chatterton JM, Evans R, et al. Success in the toxoplasma dye test. J Infect. 2001;42:16-9. 
  • Lappalainen M, Hedman K. Serodiagnosis of toxoplasmosis. The impact of measurement of IgG avidity. Ann Ist Super Sanita. 2004;40(1):81-8. 
  • Black MW, Boothroyd JC. Lytic cycle of Toxoplasma gondii. Microbiol Mol Biol Rev. 2000;64:607-23.
  • Boyer KM. Diagnostic testing for congenital toxoplasmosis. Pediatr Infect Dis J. Jan 2001;20(1):59-60. 
  • Cold CJ, Sell TL, Reed KD. Diagnosis — disseminated toxoplasmosis. Clin Med Res. Aug 2005;3(3):186. ].
  • Toxoplasmosis. In: Tierney LM Jr, McPhee SJ, Papadakis MA, eds. Current Medical Diagnosis & Treatment. 40th ed. New York, NY: McGraw-Hill; 2001:1444-7.
  • Dedicoat M, Livesley N. Management of toxoplasmic encephalitis in HIV-infected adults–a review. S Afr Med J. Jan 2008;98(1):31-2. 
  • Duff P. Maternal and Perinatal Infection. In: Gabbe SG. Niebyl JR, Simpson JL, eds. Obstetrics: Normal and Problem Pregnancies. 5th ed. New York: Churchill Livingstone; 2007:1245-6/Ch 49. 
  • Elsheikha HM. Congenital toxoplasmosis: priorities for further health promotion action. Public Health. Apr 2008;122(4):335-53. 
  • Freeman K, Tan HK, Prusa A, Petersen E, Buffolano W, Malm G, et al. Predictors of retinochoroiditis in children with congenital toxoplasmosis: European, prospective cohort study. Pediatrics. May 2008;121(5):e1215-22. 
  • Gagne SS. Toxoplasmosis. Prim Care Update Ob Gyns. May 2001;8(3):122-126. 
  • Garcia LS. Protozoa from Other Body Sites. In: Diagnostic Medical Parasitology. 5th ed. Washington, D.C.: ASM Press; 2007:130-41/Ch 6.
  • Gardner WG. Toxoplasmosis. In: Dambro MR, ed. Griffith’s 5-Minute Clinical Consult. Philadelphia, Pa: Lippincott Williams & Wilkins; 1999:1090-1.
  • Hill DE, Chirukandoth S, Dubey JP. Biology and epidemiology of Toxoplasma gondii in man and animals. Anim Health Res Rev. Jun 2005;6(1):41-61. 
  • Jones JL, Kruszon-Moran D, Wilson M, McQuillan G, Navin T, McAuley JB. Toxoplasma gondii infection in the United States: seroprevalence and risk factors. Am J Epidemiol. Aug 15 2001;154(4):357-65. 
  • Jones LA, Alexander J, Roberts CW. Ocular toxoplasmosis: in the storm of the eye. Parasite Immunol. Dec 2006;28(12):635-42. 
  • Kravetz JD, Federman DG. Toxoplasmosis in pregnancy. Am J Med. Mar 2005;118(3):212-6.  [Full Text].
  • Liesenfeld O. Toxoplasmosis. In: Goldman L, Ausiello D, eds. Cecil Medicine. 23rd ed. Philadelphia: Saunders; 2007:2394–9/Ch 370. [Full Text].
  • Lüder CG, Bohne W, Soldati D. Toxoplasmosis: a persisting challenge. Trends Parasitol. Oct 2001;17(10):460-3. [Full Text].
  • McAdam JA, Sharpe AH. The Central Nervous System. In: Kumar V, Abbas AK, Fausto N, eds. Robbins and Cotran Pathologic Basis of Disease. 7th ed. Philadelphia: Elsevier Inc.; 2005:351/Ch 28. [Full Text].
  • McAuley JB. Toxoplasmosis in children. Pediatr Infect Dis J. Feb 2008;27(2):161-2. [Medline][Full Text].
  • McLeod R, Remington JS. Toxoplasmosis (Toxoplasma gondii). In: Kliegman RM, Behrman RE, Jenson HB, Stanton BF, eds. Nelson Textbook of Pediatrics. 18th ed. Philadelphia: WB Saunders; 2007:1486-94/Ch 287. [Full Text].
  • Montoya JG, Kovacs JA, Remington JS. Toxoplasma gondii. In: Mandell GL, Bennett JE, Dolin R, eds. Principles and Practice of Infectious Diseases. 6th ed. Philadelphia: Churchill Livingstone; 2005:3170–93/Ch 276. [Full Text].
  • Montoya JG, Liesenfeld O. Toxoplasmosis. Lancet. Jun 12 2004;363(9425):1965-76. [Full Text].
  • Montoya JG, Remington JS. Management of Toxoplasma gondii infection during pregnancy. Clin Infect Dis. Aug 15 2008;47(4):554-66.  [Full Text].
  • Montoya JG, Rosso F. Diagnosis and management of toxoplasmosis. Clin Perinatol. Sep 2005;32(3):705-26.  [Full Text].
  • Petersen E. Prevention and treatment of congenital toxoplasmosis. Expert Rev Anti Infect Ther. Apr 2007;5(2):285-93.  [Full Text].
  • Petersen E. Toxoplasmosis. Semin Fetal Neonatal Med. Jun 2007;12(3):214-23.  [Full Text].
  • Peyron F, Wallon M. Options for the pharmacotherapy of toxoplasmosis during pregnancy. Expert Opin Pharmacother. Aug 2001;2(8):1269-74. [Full Text].
  • Phan L, Kasza K, Jalbrzikowski J, Noble AG, Latkany P, Kuo A, et al. Longitudinal Study of New Eye Lesions in Children with Toxoplasmosis Who Were Not Treated During the First Year of Life. Am J Ophthalmol. Jul 9 2008;[ [Full Text].
  • Pinon JM, Dumon H, Chemla C, Franck J, Petersen E, Lebech M, et al. Strategy for diagnosis of congenital toxoplasmosis: evaluation of methods comparing mothers and newborns and standard methods for postnatal detection of immunoglobulin G, M, and A antibodies. J Clin Microbiol. Jun 2001;39(6):2267-71.  [Full Text].
  • American Academy of Pediatrics (Drugs for Parasitic Infections). In: Pickering LK, Baker CJ, Long SS, McMillan JA, eds. Red Book: 2006 Report of the Committee on Infectious Diseases. 27th ed. Elk Grove Village IL: The American Academy of Pediatrics; 2006:790-820. [Full Text].
  • Remington JS, Thulliez P, Montoya JG. Recent developments for diagnosis of toxoplasmosis. J Clin Microbiol. Mar 2004;42(3):941-5.  [Full Text].
  • Rothova A. Ocular manifestations of toxoplasmosis. Curr Opin Ophthalmol. Dec 2003;14(6):384-8. [Full Text].
  • Switaj K, Master A, Skrzypczak M, Zaborowski P. Recent trends in molecular diagnostics for Toxoplasma gondii infections. Clin Microbiol Infect. Mar 2005;11(3):170-6.  [Full Text].
  • Tamma P. Toxoplasmosis. Pediatr Rev. Dec 2007;28(12):470-1.  [Full Text].
  • Tardieux I, Ménard R. Migration of Apicomplexa across biological barriers: the Toxoplasma and Plasmodium rides. Traffic. May 2008;9(5):627-35.  [Full Text].
  • Tenter AM, Heckeroth AR, Weiss LM. Toxoplasma gondii: from animals to humans. Int J Parasitol. Nov 2000;30(12-13):1217-58. [ [Full Text].
  • Trikha I, Wig N. Management of toxoplasmosis in AIDS. Indian J Med Sci. Feb 2001;55(2):87-98. [Full Text].
  • Ward TT. Toxoplasmosis. In: Rakel RE, Bope ET, eds. Conn’s Current Therapy. 60th ed. Philadelphia: WB Saunders; 2008:165-7/Ch 45. [Full Text].
  • C Giannoulis, B Zournatzi, A Giomisi, E Diza, and I Tzafettas Toxoplasmosis during pregnancy: a case report and review of the literature. http://www.pubmedcentral.nih.gov/articlerender.fcgi?artid=2504397 Retrived September 2009
  • Gilbert R, Gras I; European Multicentre Study on Congenital Toxoplasmosis. Effect of timing and type of treatment on the risk of mother to child transmission of Toxoplasma gondii. BJOG 2003;110:112-20.
  • Thiebaut R, Leproust S, Chene G, Gilbert R. Effectiveness of prenatal treatment for congenital toxoplasmosis: a meta-analysis of individual patient’s data. Lancet. 2007;369:115–122.
  • Wallon M, Liou C, Garner P, Peyron F. Congenital toxoplasmosis: systematic review of evidence of efficacy of treatment in pregnancy. BMJ. 1999;318:1511–1514.

 

 

dr Widodo Judarwanto SpA, Children Allergy clinic dan Picky Eaters Clinic Jakarta. Phone 5703646   0817171764 – 70081995.

email : judarwanto@gmail.com,

KORAN INDONESIA SEHAT

Yudhasmara Publisher

Jl Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Pusat

Phone : (021) 70081995 – 5703646

https://koranindonesiasehat.wordpress.com/

 

 

 

 

Copyright © 2009, Koran Indonesia  Sehat  Network  Information Education Network. All rights reserved.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: