Oleh: Indonesian Children | Desember 3, 2009

Diet Sedang Lemak Efektif Kurangi Risiko Jantung

Diet Sedang Lemak Efektif Kurangi Risiko Jantung

Para peneliti dari University of Washington melakukan sebuah penelitian yang melibatkan 71 partisipan laki-laki dan perempuan dengan sindrom metabolik (seseorang yang memiliki tiga dari faktor risiko penyakit jantung sebagai berikut: lemak perut, kadar trigliserida tinggi, kadar kolesterol baik HDL rendah, kadar gula tinggi dan tekanan darah tinggi).

Mereka secara acak diminta menjalankan salah satu dari dua diet yang telah didisain. Diet pertama terdiri dari 40% lemak, 45% karbohidrat dan 15% protein (diet sedang lemak). Sedang diet kedua mengandung 20% lemak, 65% karbohidrat dan 15% protein. Kedua diet mengandung lemak jenuh yang sama (8%) dan keduanya mempunyai kadar serat yang hampir sama.

Berdasarkan penelitian tersebut mereka menemukan fakta para penderita sindrom metabolik lebih baik berdiet dengan jumlah lemak sedang dibandingkan melakukan diet rendah lemak. Studi menunjukkan, kadar kolesterol jahat LDL turun lebih sedikit pada diet rendah lemak (3.4 miligram per desiliter) dibandingkan pada diet sedang lemak (11.6 mg/dl). Kadar kolesterol baik turun lebih banyak pada diet rendah lemak (4.9 mg/dl) dibandingkan pada diet sedang lemak (1.9 mg/dl. Selain itu, kadar trigliserida pada diet rendah lemak meningkat 11.1 mg/dl sedang pada mereka yang menerapkan diet sedang lemak justru turun 28.6 mg/dl.

“Sejak 2000, American Heart Association (AHA) sudah menganjurkan untuk tidak mengonsumsi diet rendah lemak, tetapi menerapkan pola diet yang rendah lemak jenuh dan lemak trans,” jelas juru bicara AHA, Alice Lichtenstein. Alice juga menambahkan kalau studi ini penting untuk memperjelas kalau anjuran AHA saat ini sudah tepat.

Ilmuwan lainnya di bidang yang sama mengaku tidak terkejut dengan hasil penemuan ini.”Biasanya, diet seperti ini menekan selera makan, dan memperbaiki kondisi diabetes,” ujar Dr. Alfred Bove, presiden American College of Cardiology.”Diet ini bekerja mengubah efek negatif metabolik pada diabetes awal.”

“Ide diet dengan jumlah lemak sedang bisa ditoleransi oleh sebagian besar orang.”Hal ini kemungkinan mempengaruhi pelepasan insulin, karena jika Anda mengonsumsi banyak karbohidrat dalam diet, Anda cenderung mengeluarkan lebih banyak insulin, dan insulin merupakan hormon yang menurunkan kadar gula darah.” Sebagai dampak dari penurunan kadar gula darah, terang Bove, maka selera makan juga akan meningkat. Hal ini membuat orang yang menerapkan diet tinggi karbohidrat akan terstimulasi untuk makan lebih banyak.

dr Widodo Judarwanto SpA, Children Allergy clinic dan Picky Eaters Clinic Jakarta. Phone 5703646   0817171764 – 70081995.

email : judarwanto@gmail.com,

KORAN INDONESIA SEHAT

Yudhasmara Publisher

Jl Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Pusat

Phone : (021) 70081995 – 5703646

https://koranindonesiasehat.wordpress.com/

 

 

 

 

Copyright © 2009, Koran Indonesia  Sehat  Network  Information Education Network. All rights reserved.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: