Oleh: Indonesian Children | Desember 2, 2009

KEKERASAN VERBAL PADA ANAK, MASIHKAH ADA DALAM KELUARGA KITA ?

KEKERASAN VERBAL PADA ANAK, MASIHKAH ADA DALAM KELUARGA KITA ?

Kampanye mengenai perlindungan terhadap anak dan kampanye hindari kekerasan terhadap anak semakin hari semakin terus bergema. Namun berbagai bentuk kekerasan masih saja ditemui dimana-mana. Kesadaran dari setiap individu, baik anggota keluarga, sekolah, maupun lingkungan masyarakat masih sangat diperlukan. Kekerasan ternyata tidak hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga bisa dalam bentuk verbal, emosional, maupun seksual. Kekerasan verbal termasuk bentuk kekerasan yang kerap ditemui dan biasanya orangtua tidak menyadari telah melakukan hal tersebut.

Anak adalah sebuah kain sutera yang berharga. Harus dibilas dengan sabar bila ternoda. Harus dihaluskan dengan penuh perasaan bila kusut, karena anak adalah jiwa yang sedang berkembang. Anak adalah investasi masa depan yang harus kita jaga dengan kasih sayang. Jangan kasari jiwanya yang sedang berkembang, jauhkannkekerasan dari nyawanya yang sedang mekar.  Cara mendidik dan membesarkan anak dalam sebuah keluarga sangat penting. Membesarkan anak memang membutuhkan kesabaran dan kasih sayang, dengan strategi yang tepat, agar segala penyampaian perhatian dan pembelajaran sampai dengan tepat dan dimengerti oleh si buah hati.

Secara tidak disadari kekerasan dalam bentuk verbal seringkali terjadi pada anak. Hal ini sering terjadi bila orang tua sedang marah. Bila sedang emosi kadangkala kata kata kasar yag tidak pernah keluar dari mulut orangtua akan meluncur begitu saja tanpa disadari.

Disamping itu kalimat atau panggilan yang tidak berkenan di hati anak sering terjadi. Panggilan seperti “si hitam”, si ndut”, atau “anak malas”, disadari atau tidak, dapat menimbulkan efek negatif pada anak. Proses labeling tersebut bisa berdasarkan karakter fisik, pribadi, maupun kebiasaannya. Padahal, maksud orang tua memberi sebutan tersebut kadang hanya sebagai “panggilan kesayangan” atau memicu anak menjadi lebih rajin.

Tidak semua anak dapat menerimanya dengan baik, terutama bila memiliki sensitivitas tinggi. Apabila hal ini berlangsung terus menerus, tidak jarang membuat anak stress, depresi, minder, yang berpengaruh pada perkembangan selanjutnya. Hal ini pun bisa terus membekas pada benak anak hingga beranjak dewasa. Dan ibarat sebuah lingkaran, mereka akan meneruskan “kebiasaan” tersebut ke lingkungan sekitar dan keturunan berikutnya. 

Cara mengatasinya?

Kesadaran dan sikap empati orang tua terhadap perasaan dan perkembangan jiwa anak merupakan kunci utama menghindari hal tersebut. Mencoba memahami dunia anak dapat membantunya mengatasi permasalahan yang dihadapinya.

Sebutan dan panggilan tersebut kadang sulit untuk dikendalikan, dan tidak menutup kemungkinan pula ada anak yang tidak terpengaruh. Untuk mengetahuinya, bisa dilihat dari perubahan mimik anak saat mendengar nama sebutannya dipanggil. Apabila raut wajahnya menunjukkan kekesalan, hal ini merupakan alarm bagi anda dan orang dewasa lain di rumah yang juga sering melakukannya, untuk segera menghentikan kebiasaan tersebut.

Bisa juga dengan melihat ada tidaknya perubahan sikap pada anak. Misalnya, meski dipanggil anak malas, tidak ada perubahan pada sikapnya alias tetap malas. Bukan berarti dengan demikian anda bisa terus memanggil sebutan-sebutan lain untuknya. Hal ini menandakan bahwa tidak ada gunanya menggunakan kata sebutan yang bersifat negatif, karena toh tidak ada hasilnya. Penyebutan tersebut hanya memberi satu dampak, yaitu perasaan tidak aman

Penyebutan nama untuk anak yang bersifat merendahkan atau makian, seperti “kamu bodoh”, “anak nakal”, atau sering menyebutnya sebagai “sebuah kesalahan terbesar” merupakan bagian dari bentuk-bentuk kekerasan verbal. Biasanya hal ini terjadi ketika anak melakukan suatu hal yang dianggap salah. Sayangnya, bukannya diberi pandangan dan alasan yang tepat mengapa hal tersebut tidak boleh dilakukan, yang diterima anak justru hanya kemarahan.

Hal ini pun menimbulkan dampak jangka panjang pada anak, terutama pada segi perkembangan psikologis hingga anak dewasa. Diantaranya adalah persepsi diri yang negatif, anak enggan bersosialisasi, tidak mampu mengontrol amarahnya, dan melakukan kekerasan verbal terhadap teman sebayanya atau anaknya kelak ketika mereka sudah menjadi orang tua. Dengan kata lain, bentuk-bentuk kekerasan seperti ini pun akan terus berlangsung dari generasi ke generasi. Tak ada cara lain selain memulainya dari diri sendiri untuk memutus lingkaran tersebut.

Memerhatikan nada bicara dan menggunakan kosa kata yang tepat merupakan salah satu cara untuk menghindari terjadinya kekerasan verbal. Pada sebagian orang kebiasaan ini memang sulit untuk segera dilakukan, namun dengan sering melakukannya baik kepada pasangan maupun orang-orang disekitar maka hal tersebut sangat mungkin menjadi kenyataan terutama jika dalam keadaan emosi tinggi, di mana dalam momen seperti inilah kekerasan verbal kerap sulit dihindari. Pada akhirnya anak juga akan mencontoh prilaku tersebut sehingga tidak berkata kasar baik kepada orangtua, teman, maupun orang-orang di lingkungan sekitarnya.

dr Widodo Judarwanto SpA, Children Allergy clinic dan Picky Eaters Clinic Jakarta. Phone 5703646   0817171764 – 70081995.

email : judarwanto@gmail.com,

KORAN INDONESIA SEHAT

Yudhasmara Publisher

Jl Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Pusat

Phone : (021) 70081995 – 5703646

https://koranindonesiasehat.wordpress.com/

 

 

 

 

Copyright © 2009, Koran Indonesia  Sehat  Network  Information Education Network. All rights reserved.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: