Mitos Terbesar Di Indonesia Dalam Kesehatan
MITOS : Penyebab flu atau Infeksi saluran napas (batuk, pilek) karena makan gorengan , minum es, kecapekan, naik sepeda motor, kena kipas angin atau renovasi rumah
FAKTA : Infeksi saluran napas, flu atau influenza ditularkan melalui udara atau droplet infection oleh batuk atau bersin, menciptakan udara di sekitarnya yang mengandung virus. Influenza juga dapat ditularkan melalui kotoran burung, air liur, ingus, kotoran dan darah. Infeksi juga terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh penderita muisal ingus penderita dapat berpindah ke orang lain melalui salaman tangan , memegang gelas yang sama atau berenang. .
MITOS : Ingus warna hijau atau kuning harus diberi antibiotika
FAKTA : Infeksi saluran napas sebagian besar karena virus. Ingus atau dahak hijau adalah juga bagian dari perjalanan penyakit infeksi yang disebabkan karena virus tidak perlu antibiotika. Beberapa puluh tahun lalu di Amerika Serikat telah dilakukan kerjasama CDC (Centers for Disease Control and Prevention) dan AAP (American Academy of Pediatrics) memberikan pengertian yang benar kepada masyarakat dan dokter tentang hal itu.
MITOS : Mi instan (indo i, supermi dll) berbahaya bagi kesehatan
FAKTA : Selama ini bahan pengawet yang dipakai dalam mi instan telah diteliti dinyatakan aman oleh BPOM. Bahkan Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (Food and Drug Administration (FDA) menggolongkan Methylparaben dalam kategori Generally Recognized as Safe (GRAS). Artinya, bahan kimia ini bisa dan aman untuk digunakan pada sebagian besar produk makanan. Sebaliknya masyarakat Indonesia khawatir dengan mi instan tetapi tidak pernah takut dengan mi telor, mi keliling atau mi industri rumahan lainnya yang sebagian besar malah tidak diketahui secara pasti bahan dan jumlah bahan pengawet yang dipakai.
Mitos : Demam berdarah seringkali disertai Tifus. Widal dan pemeriksaan IgM anti tifus positif pasti kena tifus.
FAKTA : Ternyata pemeriksaan widal dan IgM tifus spesifitasnya rendah. Seringkali nilainya meningkat pada infeksi virus lain meski penderita tidak mengalami penyakit tifus. Hal inilah yang menyebabkan overtreatment dan overdiagnosis penyakit tifus tinggi.
MITOS : Sariawan karena kurang vitamin C
FAKTA. : Sariawan dalam dunia medis disebut dengan aphtous stomatitis. Penyebab dari penyakit ini belum diketahui secara pasti, namun ada banyak faktor yang diyakini berkaitan dalam memicu terjadinya sariawan. Di antaranya adalah alergi makanan, menurunnya sistem imun (kekebalan tubuh), stress, trauma pada jaringan lunak dalam rongga mulut (seperti tergigit yang berulang-ulang), kurang nutrisi, atau disebabkan karena obat-obatan tertentu. Bila sariawan terjadi berulang-ulang dan hilang timbul, maka disebut recurrent aphtous stomatitis
Supported by

Koran Indonesia Sehat Yudhasmara Foundation
- Clinic For Children http://childrenclinic.wordpress.com/
- Children Allergy Clinic http://childrenallergyclinic.wordpress.com/
- Picky eaters Clinic (Klinik Kesulitan Makan Pada Anak) http://mypickyeaters.wordpress.com/
JL Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat Phone :62 (021) 70081995 – 5703646
Clinical and Editor in Chief : Dr Widodo Judarwanto SpA, pediatrician. email : judarwanto@gmail.com,
For Free Newsletter join with this twitter : https://twitter.com/WidoJudarwanto
Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider.
Copyright © 2010, Koran Indonesia Sehat Information Education Network. All rights reserved


