Oleh: Indonesian Children | Januari 23, 2010

Gangguan Kejiwaan Pada Anak Meningkat

Gangguan Kejiwaan Pada Anak Meningkat

Gangguan kejiwaan bisa menimpa siapa saja termasuk saat masih anak-anak. Peneliti mendapatkan jumlah anak berusia 2-5 tahun yang terdiagnosis mengalami gangguan bipolar meningkat dua kali lipat dibanding dekade lalu.

Gangguan bipolar bisa dikarakteristikkan dengan perubahan suasana hati yang parah, biasanya sering muncul saat masa remaja atau setelahnya. Tapi Dr Yusuf Beiderman seorang psikiater anak dari Harvard University mengubah pandangan yang menyatakan anak-anak bisa memiliki kelainan ini sejak usianya masih sangat muda. “Didapatkan sekitar lebih dari 40 kali lipat peningkatan jumlah anak yang didiagnosis mengalami gangguan bipolar selama sepuluh tahun terakhir,” ujarnya seperti dikutip dari Reuters. Jumlah penderita dan resep obat-obat antipsikotik telah meningkat kuat sebesar dua kali lipat dibandingkan dengan dekade lalu. Penelitian menunjukkan meskipun masih jarang resep obat psikiatrik untuk anak usia 2 tahun, tapi praktiknya saat ini menjadi lebih sering digunakan.

Peneliti menggunakan data yang disusun sejak tahun 2000-2007 dan diterbitkan dalam Journal of the American Academy of Child & Adolescent Psychiatry. Dalam laporan tersebut juga disebutkan ada anak gadis berusia 4 tahun bernama Rebecca Riley meninggal akibat overdosis obat yang berguna untuk menstabilkan perilaku hiperaktifnya dan emosinya. Kejadian ini berlangsung di wilayah Boston, AS pada tahun 2006.

Seorang psikiater anak di Boston, Kayako Kifuji menuturkan Riley didiagnosis mengalami gangguan bipolar dan ADHD (attention deficit hyperactivity disorder) saat berusia 30 bulan. Sejak itu dirinya telah menerima beberapa obat yang sangat kuat seperti Depakote, yaitu sebuah obat antiseizure untuk gangguan bipolar serta clonidine yaitu obat untuk tekanan darah. Kasus kematian Riley sempat menjadi sorotan publik dan perdebatan di kalangan profesi psikiatri mengenai apakah gangguan bipolar dapat didiagnosis saat usia anak masih sangat muda. Selain itu diperdebatkan pula apakah bijaksana untuk meresepkan obat yang keras pada anak-anak.

Harry Tracy seorang psikolog yang mengkhususkan pada gangguan system saraf menuturkan diagnosis untuk anak yang masih sangat muda hanya bisa ditentukan oleh ilmu pasti. Gangguan seperti ADHD, depresi, gangguan bipolar dan pelecehan seksual dapat menunjukkan gejala yang sama pada usia balita. Jika seorang anak didiagnosis dengan gangguan bipolar pada saat berusia 2-5 tahun, maka sekitar 50 persennya menerima obat antipsikotik obat untuk menstabilkan suasana hati, stimulan dan obat anti depresi.

KORAN INDONESIA SEHAT

http://koranindonesiasehat.wordpress.com

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 50 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: