Oleh: Indonesian Children | Januari 8, 2010

Muntah-muntah, Infeksi Virus Saluran Cerna Sedang Mengancam Jakarta

Muntah-muntah, Infeksi Virus Saluran Cerna Sedang Mengancam Jakarta

Dok, kemarin anakku muntah terus tidak berhenti sampai lebih 10 kali. Mungkin kecapekan atau masuk angin sambung si ibu. Demikian keluhan seorang ibu muda terhadap dokter yang menerima konsultasi kesehatan anaknya.

Tampaknya keluhan tersebut sangat mungkin adalah infeksi saluran cerna yang disebabkan karena virus. Dalam beberapa bulan terakhir ini di Jakarta atau beberapa kota di Indonesia tampaknya terjadi peningkatan kasus penyakit infeksi saluran cerna itu. Gangguan yang timbul sebenarnya mirip kasus muntaber atau gastroenteritis yang disebabkan rotavirus. Bedanya, infeksi virus ini lebih didominasi gangguan muntah yang berlebihan, tanpa diikuti diare yang berlebihan. Sedangkan pada infeksi rotavirus selain muntah juga diikuti oleh diare yang hebat.

Perjalanan penyakit tersebut biasanya pada hari pertama didahului oleh keluhan muntah yang sering sekitar 8 – 10 kali perhari. Setelah itu saat hari ke dua dan ke tiga berangsur berkurang dan akan membaik paling lama pada hari ke 5 sampai ke 7. Gejala lain yang menyertai biasanya suhu badan normal atau meningkat ringan atau subfebris sekitar 37,5 – 38 C. Pada anak di atas 2 tahun biasanya disertai nafsu akan berkurang, nyeri perut dan sakit kepala. Pada beberapa kasus disertai diare ringan antara 3 sampai 5 kali perhari.

Penyakit ini sebenarnya terjadi sepanjang tahun secara berkala menyerang bayi dan anak-anak khususnya di bawah 5 tahun. Hanya saja pada keadaan tertentu kasusnya meningkat drastis. Pada anak berusia lebih besar atau dewasa biasanya keluhannya lebih ringan. Bahkan pada orang dewasa kadang keluhannya hanya nyeri perut, mual dan badan ngilu atau terasa pegal. Oleh sebagaian masyarakat keluhan seperti ini sering dianggap masuk angin dan terlalu lelah.

Usia anak yang terserang paling rawan berkisar pada umur 2 bulan sampai 5 tahun. Derajat kesakitannya mulai dari yang ringan sampai sedang tetapi sangat jarang menimbulkan kematian.

Penyakit infeksi saluran cerna yang tampaknya tidak berbahaya ini pada anak-anak ini masih belum jelas terungkap penyebabnya. Diduga disebabkan oleh virus dari beberapa golongan genus Rotavirus atau golongan reovirus lainnya. Virus ini sangat mudah berkembangbiak pada pergantian musim dimana terjadi kondisi kelembaban yang ideal untuk pertumbuhan virus. Virus ini juga sangat mudah menular, terutama lewat cairan muntahan, tinja dan urine penderita. Sebagian lagi ditularkan dari tinja atau muntahan yang mengering lewat udara atau angin.

Virus ini tampaknya mempunyai reseptor dan target organ paling utama di dinding saluran cerna bagian atas. Meski sebagian usus yang lain juga ikut terpengaruh ringan, sehingga cairan atau makanan tersebut langsung keluar lagi berupa tinja yang cair.

Permasalahan yang diakibatkan infeksi virus ini adalah tubuh akan mengalami kekurangan cairan atau dehidrasi jika pengeluaran cairan melalui muntah yang berlebihan. Hal ini yang harus diantisipasi baik orangtua maupun klinisi.

Penanganan di rumah

Pada kasus ini diperlukan kewaspadaan dari orangtua maupun tenaga kesehatan. Diperlukan pengetahuan untuk menilai derajat dehidrasi atau kekurangan cairan. Pada dehidrasi ringan, anak masih tampak segar, lincah dan mau minum. Kulit masih terlihat kencang dan hangat. Orangtua disarankan memberikan minum oralit sejumlah cairan muntah yang keluar. Pada dehidrasi sedang, anak terlihat gelisah, rewel, lemas dan menangis terus.

Pemberian cairan harus banyak untuk mengganti cairan yang dikeluarkan lewat muntah. Namun menjadi masalah karena setiap minum anak selalu muntah. Dalam keadaan ini sebaiknya jangan terburu-buru diberi minum banyak. Sebaiknya mungkin bisa diberikan obat muntah terlebih dahulu, satu jam setelah itu baru boleh minum banyak tetapi cara masuknya sedikit-sedikit tapi sering. Cara pemberiannya mungkin setiap 15 menit diberikan 30-60 cc cairan oralit atau the manis, kalau perlu pemberiannya dengan sendok. Seringkali bila diberikan minum karena anak dalam keadaan dehidrasi ringan akan menimbulkan rasa haus. Begitu minum botol dan gelas akan berlebihan minum, hal ini akan memicu muntah semakin sering karena saluarn cernanya sedang sensitif terangsang muntah.

Kapan Harus segera ke dokter

Jika terjadi muntah, lemas, tidak mau makan minum, demam, kejang dan menggigil, kencing sedikit, sebaiknya dirawat di rumah sakit atau puskesmas perawatan untuk mencegah komplikasi dan memenuhi kebutuhan cairan lewat infus.

Beberapa anak terlihat sangat haus, tapi sebagian lagi terjadi muntah-muntah. Kulit terlihat layu, mata cekung, bibir kering. Muntah yang terjadi lebih dari 10 kali. Pada stadium ini sebaiknya anak dibawa ke rumah sakit atau dokter.
Jika terjadi kegagalan pemberian oralit, seperti anak muntah, lemas atau makin gelisah, maka harus dirujuk ke rumah sakit atau terdekat untuk diberikan cairan melalui infus. Pada dehidrasi berat dengan gejala anak lemas, tak sadar, kejang dan dingin atau malah demam menggigil, tidak kencing atau kencing sedikit, juga harus sesegera mungkin dibawa ke rumah sakit. Berbeda dengan muntaber atau gastroenteritis karena rotavirus. Dehidrasi berat akibat infeksi ini relatif jarang terjadi.

Terapi cairan oral lewat mulut dengan oralit atau CRO (cairan rehidrasi oral) adalah terapi utama pada penyakit ini. Jika terjadi kegagalan terapi cairan oral maka pilihan selanjutnya adalah terapi cairan lewat infus.

Tidak perlu antibitotika
Pemberian antibiotika tidak diperlukan dalam penyakit ini. Pemberian obat penghenti atau pemampat diare pada bayi dan anak sangat tidak dianjurkan. Pemberian obat-obatan jenis ini malah akan menghambat pengeluaran virus dari saluran cerna. Virus yang berkumpul banyak di usus akan memproduksi gas. Anak akan kembung dan sulit bernafas.

Jika infeksi saluran cerna yang dialami tanpa komplikasi biasanya anak akan sembuh dalam waktu tiga sampai lima hari. Selama anak atau bayi masih dapat minum, terapi cairan rehidrasi oral dapat dilakukan di rumah. ASI (air susu ibu) tetap dilanjutkan.

Pencegahan
Pencegahan selalu lebih baik dari pengobatan. Untuk mencegah meluasnya kasus ini sebaiknya dimulai dari menjaga kebersihan anggota keluarga dan lingkungan rumah. Bayi yang masih gemar memasukkan barang ke dalam mulutnya sebaiknya bila keluar rumah harus tidak sembarangan memegang sesuatu. Bila memegang sesuatu barang yang beresiko kotor sulit dihindarkan sebaiknya mencuci tangan bersih. Bisa juga diberikan mainan khusus dengan kebersihan yang terjaga dicuci dan direbus. Botol susu hendaknya disterilkan dengan merebus atau dengan alat steril khusus. Pasien yang terserang penyakit ini seharusnya dipisahkan dari bayi dan anak. Muntahan, tinja dan air seni penderita harus diwaspadai karena merupakan sumber penularan.
Tindakan dan kebiasaan dengan mencuci tangan dengan baik dan bersih adalah upaya pencegahan terbaik. Dengan mencuci tangan sekitar 50% penyakit dapat dihindari. Tapi khususnya penyakit yang menular lewat mulut seperti infeksi saluran cerna karena virus, mungkin lebih dari 80% dapat dihindari dengan mencuci tangan.

Dr Widodo Judarwanto SpA
KORAN ANAK INDONESIA

http://korananakindonesia.wordpress.com

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 49 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: