Oleh: Indonesian Children | Desember 3, 2009

PENYAKIT PADA KEHAMILAN : Infeksi Cytomegalovirus (CMV)

Infeksi Cytomegalovirus (CMV) tidak harus bergabung dengan infeksi TORCH (Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes simplex), juga tidak terbatas pada ibu hamil yang mungkin menularkan kepada janin atau anak yang dapat menyebabkan cacat lahir, buta atau tuli, melainkan dapat menyerang setiap individu.

Infeksi CMV umumnya berjalan simtomatik pada penderita dengan kompetensi system imun tubuh yang baik, namun apabila individu berada dalam kondisi imun belum matang (misalnya janin, bayi baru lahir), tertekan (memakai obat immunosupressan), atau lemah (misalnya menderita kanker, human immunodeficiency virus, dan lain-lain), dapat menimbulkan gejala klinik yang nyata dan berat. Setelah infeksi primer atau infeksi pertama kali, CMV hidup menetap (dormant) dalam gel tubuh inang. Infeksi berjalan laten, namun reaktivasi, replikasi, reinfeksi sering terjadi. Penyebaran dalam tubuh atau endogen dapat terjadi melalui sirkulasi darah dan dari gel ke gel.

Infeksi CMV bersifat sistemik, menyerang berbagai gel organ tubuh dan dapat meningkatkan proses inflamasi, memacu respons autoimun, terlibat dalam patogenesis aterosklerosis, memacu timbulnya dan mempercepat progresivitas keganasan, menyebabkan infertilitas.

Prevalensi infeksi CMV di negara berkembang mencapai 80-90% dari populasi, Lisyani mendapatkan angka lokal di tahun 2004 sebesar 87,8 %. CMV dijumpai terbanyak dalam saliva dan urin, ekskresi dapat terjadi berminggu-minggu, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, sehingga kemungkinan penularan mudah terjadi. Dengan demikian, transmisi infeksi selain dari ibu ke janin atau bayi baru lahir, dapat pula terjadi melalui kontak langsung, kontak dengan barang-barang yang terkontaminasi, kontak seksual, transfusi darah, transplantasi organ dan sebagainya.

Infeksi CMV melibatkan banyak interaksi antara molekul -molekul yang dimiliki oleh CMV dengan molekul inang yang sudah ada ataupun yang terbentuk karena pacuan CMV. Respons imun tubuh sangat berperan untuk meniadakan virus, yang diperantarai gel seperti natural killer atau gel NK, sel limfosit T CD8+ atau T sitotoksik atau T sitolitik, gel T CD4+ yang mengaktifkan makrofag, dan yang diperantarai antibodi seperti IgG dan IgM. Eliminasi ditujukan terhadap protein struktural CMV yang bersifat imunogenik. Mekanisme penghindaran CMV terhadap respons imun tubuh juga terjadi. Infeksi CMV seringkali berjalan asimtomatik atau tanpa gejala, oleh karena itu deteksi secara laboratorik sangat diperlukan. Bahan pemeriksaan atau spesimen yang digunakan ialah serum darah, urin, cairan tubuh lain. Pemeriksaan laboratorium yang sering dilakukan ialah menetapkan kadar imunoglobulin (Ig) atau antibodi terhadap antigen virus CMV, yaitu IgM, IgG, IgG avidity. Imunoglobulin yang terdeteksi secara laboratorik ini, bukan merupakan antibodi yang mampu meneutralkan antigen protein CMV struktural, sehingga hanya dapat dipakai untuk menunjang diagnosis atau menggambarkan respons tubuh terhadap infeksi CMV. IgM untuk mendeteksi infeksi primer akut yang terbentuk dalam 3-5 hari pasca infeksi, juga untuk mendeteksi infeksi fetus atau kongenital.

Pada infeksi primer, IgG mun.cul kira-kira 2 minggu kemudian. Pada reaktivasi, reinfeksi, IgG muncul lebih cepat disertai kadar yang lebih tinggi dan kekuatan mengikat yang lebih baik (avidity), sehingga serokonversi dan IgG aviditydipakai untuk membedakan infeksi baru atau lama. Metoda pemeriksaan laboratorium yang digunakan ialah ELISA (enzyme linked immunosorbent assay) atau ELFA (enzyme linked immunofuorescent assay).

Di samping itu, kultur virus, pemeriksaan PCR (polymerase chain reaction) kualitatif dan kuantitatif, dapat dilakukan untuk mengetahui muatan atau pelepasan virus dalam cairan tubuh. Hasil pemeriksaan mikroskopik sedimen urin rutin pengecatan Sternheimer-Malbin, yaitu penemuan gel epitel tubulus raksasa (giant cell) yang mengandung benda inklusi intranukleus, dipakai untuk mengetahui replikasi virus.

Pemeriksaan laboratorium lain untuk menunjang manifestasi klinik infeksi CMV, dapat dilakukan sesuai indikasi antara lain yaitu terhadap radang secara umum, radang: saluran kemih, saluran cerna, hati, paru, mata, telinga, pemeriksaan penunjang manifestasi klinik aterosklerosis, petanda tumor.

Pengobatan terhadap infeksi CMV, sama seperti infeksi virus pada umumnya. Pola hidup sehat termasuk istirahat cukup, sangat penting agar sistem imun dapat bekerja dengan baik. Higiene dan sanitasi perfu diperhatikan untuk mencegah penularan.

Calon ibu terinfeksi CMV primer akut sebaiknya menunda untuk hamil. Bayi baru lahir dengan ibu terinfeksi CMV, perlu diperiksa IgM, agar infeksi kongenital dapat diketahui dan diupayakan minimalisasi timbulnya manifestasi klinik di kemudian hari. Pemeriksaan sederhana mikroskopik urin rutin perlu dipakai sebagai uji saring untuk mengetahui infeksi, replikasi, dan mengantisipasi kemungkinan pelepasan virus dalam urin. Pada pemberian transfusi darah, resipien dengan infeksi CMV negatif idealnya tidak menerima darah dari donor terinfeksi, namun timbul kendala karena prevalensi infeksi CMV sangat tinggi. Harga pemeriksaan laboratorium relatif masih mahal, hal ini semua menjadi tantangan di dalam pemikiran dan pemecahan masalah.

 

CMV DALAM KEHAMILAN

CMV adalah virus DNA dan merupakan kelompok dari famili virus Herpes sehingga memiliki kemampuan latensi. Virus ditularkan melalui berbagai cara a.l tranfusi darah, transplantasi organ , kontak seksual, air susu , air seni dan air liur ; transplansental atau kontak langsung saat janin melewati jalan lahir pada persalinan pervaginam.

30 – 60% anak usia sekolah memperlihatkan hasil seropositif CMV, dan pada wanita hamil 50 – 85%. Data ini membuktikan telah adanya infeksi sebelumnya. Gejala infeksi menyerupai infeksi mononukleosis yang subklinis. Ekskresi virus dapat berlangsung berbulan bulan dan virus mengadakan periode laten dalam limfosit, kelenjar air liur, tubulus renalis dan endometrium. Reaktivasi dapat terjadi beberapa tahun pasca infeksi primer dan dimungkinkan adanya reinfeksi oleh jenis strain virus CMV yang berbeda.

DIAGNOSIS

Virus dapat di isolasi dari biakan urine atau biakan berbagai cairan atau jaringan tubuh lain.

Tes serologis mungkin terjadi peningkatan IgM yang mencapai kadar puncak 3 – 6 bulan pasca infeksi dan bertahan sampai 1– 2 tahun kemudian.

IgG meningkat secara cepat dan bertahan seumur hidup

Masalah dari interpretasi tes serologi adalah :

  1. Kenaikan IgM yang membutuhkan waktu lama menyulitkan penentuan saat infeksi yang tepat
  2. Angka negatif palsu yang mencapai 20%
  3. Adanya IgG tidak menyingkirkan kemungkinan adanya infeksi yang persisten

DAMPAK TERHADAP KEHAMILAN

CMV adalah infeksi virus kongenital yang utama di US dan mengenai 0.5 – 2.5 % bayi lahir hidup. Infeksi plasenta dapat berlangsung dengan atau tanpa infeksi terhadap janin dan infeksi pada neonatus dapat terjadi pada ibu yang asimptomatik.

Resiko transmisi dari ibu ke janin konstan sepanjang masa kehamilan dengan angka sebesar 40 – 50%.

10 – 20% neonatus yang terinfeksi memperlihatkan gejala-gejala :

  1. Hidrop non imune
  2. PJT simetrik
  3. Korioretinitis
  4. Mikrosepali
  5. Kalsifikasi serebral
  6. Hepatosplenomegali
  7. hidrosepalus

80 – 90% tidak menunjukkan gejala namun kelak dikemudian hari dapat menunjukkan gejala :

  1. Retardasi mental
  2. Gangguan visual
  3. Gangguan perkembangan psikomotor

Seberapa besar kerusakan janin tidak tergantung saat kapan infeksi menyerang janin.

CNV rekuren berkaitan dengan penurunan resiko janin dengan angka penularan ibu ke janin sebesar 0.15% – 1%

Tidak ada terapi yang efektif untuk cytomegalovirus dalam kehamilan.

Pencegahan meliputi penjagaan kebersihan pribadi, mencegah tranfusi darah

Usaha untuk membantu diagnosa infeksi CMV pada janin adalah dengan melakukan :

  1. Ultrasonografi untuk identifikasi PJT simetri, hidrop, asites atau kelainan sistem saraf pusat
  2. Pemeriksaan biakan cytomegalovirus dalam cairan amnion

 

Daftar Pustaka

  • Goodpasture EQ, Talbot FB. Concerning the nature of “protozoan-like” cells in certain lesions of infancy. Am J Dis Child. 1921;21:415.
  • Schleiss M, Stanberry L. Herpesvirus infections of the neonatal CNS: Similarities and differences between HSV and CMV. Herpes. 1997;4:74.
  • Schleiss, MR. Prospects for development and potential impact of a vaccine against congenital cytomegalovirus (CMV) infection. J. Pediatr. 151:564-70.
  • Stagno S, Pass RF, Dworsky ME, et al. Congenital cytomegalovirus infection: The relative importance of primary and recurrent maternal infection. N Engl J Med. Apr 22 1982;306(16):945-9. 
  • Yow MD. Congenital cytomegalovirus disease: a NOW problem. J Infect Dis. Feb 1989;159(2):163-7.
  • Weller TH, Hanshaw JB. Virological and clinical observation of cytomegalic inclusion disease. N Engl J Med. 1962;266:1233.
  • Weller TH. The cytomegaloviruses: ubiquitous agents with protean clinical manifestations. I. N Engl J Med. Jul 22 1971;285(4):203-14. 
  • Schleiss MR, McVoy MA. Overview of congenitally and perinatally acquired cytomegalovirus infections: recent advances in antiviral therapy. Expert Rev Anti Infect Ther. 2004;2 (3):389-403. 
  • Kimberlin DW, Lin CY, Sanchez PJ. Effect of ganciclovir therapy on hearing in symptomatic congenital cytomegalovirus disease involving the central nervous system: a randomized, controlled trial. J Pediatr. 2003;143(1):16-25. 
  • Dworsky M, Yow M, Stagno S, et al. Cytomegalovirus infection of breast milk and transmission in infancy. Pediatrics. Sep 1983;72(3):295-9.
  • Hamele M, Flanagan R, Loomis CA, Stevens T, Fairchok MP. Severe morbidity and mortality with breast milk associated cytomegalovirus infection. Pediatr Infect Dis J. Oct 30 2009;
  • Fowler KB, Pass RF. Risk factors for congenital cytomegalovirus infection in the offspring of young women: exposure to young children and recent onset of sexual activity. Pediatrics. 2006;118:e286-92. 
  • [Guideline] Kaplan JE, Masur H, Holmes KK. Guidelines for preventing opportunistic infections among HIV-infected persons–2002. Recommendations of the U.S. Public Health Service and the Infectious Diseases Society of America. MMWR Recomm Rep. Jun 14 2002;51(RR-8):1-52. 
  • Colugnati FA, Staras SA, Dollard SC, Cannon MJ. Incidence of cytomegalovirus infection among the general population and pregnant women in the United States. BMC Infect Dis. 7:71. 
  • Fowler KB, Dahle AJ, Boppana SB, Pass RF. Newborn hearing screening: will children with hearing loss caused by congenital cytomegalovirus infection be missed?. J Pediatr. Jul 1999;135(1):60-4. 
  • Barton LL, Mets MB. Congenital lymphocytic choriomeningitis virus infection: decade of rediscovery. Clin Infect Dis. Aug 1 2001;33(3):370-4.
  • Gleaves CA, Smith TF, Shuster EA, Pearson GR. Comparison of standard tube and shell vial cell culture techniques for the detection of cytomegalovirus in clinical specimens. J Clin Microbiol. Feb 1985;21(2):217-21. 
  • Demmler GJ, Buffone GJ, Schimbor CM, May RA. Detection of cytomegalovirus in urine from newborns by using polymerase chain reaction DNA amplification. J Infect Dis. Dec 1988;158(6):1177-84. 
  • [Best Evidence] Pass RF, Zhang C, Evans A, Simpson T, Andrews W, Huang ML, et al. Vaccine prevention of maternal cytomegalovirus infection. N Engl J Med. Mar 19 2009;360(12):1191-9. 
  • Boppana SB, Rivera LB, Fowler KB, Mach M, Britt WJ. Intrauterine transmission of cytomegalovirus to infants of women with preconceptional immunity. N Engl J Med. May 3 2001;344(18):1366-71.
  • Demmler GJ. Congenital cytomegalovirus infection and disease. Adv Pediatr Infect Dis. 1996;11:135-62. 
  • Demmler GJ. Congenital cytomegalovirus infection treatment. Pediatr Infect Dis J. Nov 2003;22(11):1005-6. 
  • Kovacs A, Schluchter M, Easley K, et al. Cytomegalovirus infection and HIV-1 disease progression in infants born to HIV-1-infected women. Pediatric Pulmonary and Cardiovascular Complications of Vertically Transmitted HIV Infection Study Group. N Engl J Med. Jul 8 1999;341(2):77-84. 
  • Plotkin SA. Vaccination against cytomegalovirus, the changeling demon. Pediatr Infect Dis J. Apr 1999;18(4):313-25; quiz 326.

 

dr Widodo Judarwanto SpA, Children Allergy clinic dan Picky Eaters Clinic Jakarta. Phone 5703646   0817171764 – 70081995.

email : judarwanto@gmail.com,

KORAN INDONESIA SEHAT

Yudhasmara Publisher

Jl Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Pusat

Phone : (021) 70081995 – 5703646

http://koranindonesiasehat.wordpress.com/

 

 

 

 

Copyright © 2009, Koran Indonesia  Sehat  Network  Information Education Network. All rights reserved.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 49 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: